Wednesday, June 30, 2010

jiaaaahhh dia bukan LARAS

Hari ini tepat pukul 5 pagi aku sudah terbangun dari tidurku, entah kenapa hari ini aku bangun pagi - pagi sekali. Aku langsung pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahku, saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat ibuku keluar dari dapur, ia menenteng sebuah tas belanja berwarna biru tua yang masih kosong. "Mau kepasar ya buk?" tanyaku sambil mengelap mukaku yang basah. "Iya, kok tumben kamu bangun pagi?"tanya ibuku, aku diam tak menjawab pertanyaan ibuku, karna aku juga nggak tau knapa hari ini aku bangun pagi - pagi sekali. "Sini buk, Lanang anter" kataku memberi bantuan kepada ibuku, aku mengambil tas belanjaan ibuku, dan tanpa perlawanan ibuku memberikannya padaku, ibuku terlihat heran, aku tau mungkin sekarang ibuku sedang berpikir keras kenapa anaknya bisa menjadi baik begini, aku juga tidak tau apa yang sedang terjadi padaku hari ini. Sesampainya dipasar aku mengikuti langkah ibuku, dari pedagang satu ke pedagang lainnya. Ternyata menemani ibu berbelanja itu tidak terlalu buruk, sesekali aku tertawa melihat ibu - ibu yang berusaha keras menawar barang, seolah - olah mereka tidak mau rugi sedikit pun. Ibuku kemudian melanjutkan pencariannya, "sekarang ibu mau beli apa lagi?"tanyaku, ibuku menhentikan langkahnya, dia memeriksa barang belanjaannya "daging udah, cabe udah, sayur juga udah, apa lagi ya?" ibuku mengguman sendirian, "mmm...?? daging, sayur,......??? hmm...?? ahaaa... buah buk!!" seruku. Ibuku menoleh kepadaku "pinter kamu nak" kata ibuku, "ayo sekarang kita beli buah ditokonya pak bonsai" ajak ibuku. Hah.. pak Bonsai, ada - ada saja, gumamku dalam hati. Tak jauh kami berjalan akhirnya kami tiba disebuah toko buah yang kecil, namun buahnya tertata dengan sangat baik, terlihat 2 orang ibu - ibu sedang memilih buah disana, "nah ini dia toko buah langganan ibu"kata ibuku sambil menunjuk toko buah itu, kami berdua akhirnya masuk kedalam toko, "Eh, buk marni, siapa tuh yang diajak?" tanya salah satu ibu - ibu yang tadi memilih buah ditoko itu. "Och.. ini anak saya, Lanang"jawab ibuku. "waduh, udah besar ya anaknya, kok tumben nih diajak kepasar? biasanya buk marni kan sendirian, gak pake ditemenin" kata ibu yang satunya lagi. "iya nih, tumben aja anak saya ini minta nganterin, yah saya sih mau aja. Eh, buk Irma ama buk Desi mau beli buah apa nih?" kata ibuku, akhirnya ketiga ibu - ibu itu larut dalam perbincangan. Aku berdiri disamping tumpukan buah apel merah yang terlihat begitu segar, tiba - tiba terdengar suara yang begitu lembut dari belakangku, "permisi" itu suara seorang gadis, aku menoleh kebelakang dan aku melihat seorang gadis manis yang sangat cantik, ia membawa sekeranjang apel merah, mataku tak bisa aku palingkan dari wajahnya, cukup lama aku menatapnya, dan akhirnya dia membuyarkan tatapanku, "Mas... Mas... bisa minggir sedikit? saya mau lewat" serunya. Aku kemdian begeser namun tak sedikitpun pandanganku aku alihkan darinya. "Lanang, ayo pulang!!" seru ibuku yang sudah keluar dari toko, aku pun beranjak dari tempatku berdiri, namun gadis itu masih membuatku penasaran, tiba - tiba terdengar teriakan seorang wanita "Laras..........." gadis itupun beranjak, Aha... pasti namanya Laras, terkaku dalam hati, Yes... aku tau namanya, besok aku mau kesini lagi dan aku akan bertemu dia lagi. Aku nggak nyangka ada gadis secantik dia, disebuah pasar kumuh seperti ini, ternyata ini jawaban dari pertanyaanku tadi, kenapa aku bangun pagi - pagi sekali? ternyata untuk bertemu gadis cantik yang bernama Laras.

Keesokan harinya, aku bangun kesiangan, hah... astaga aku bangun jam 8 pagi. dan ibuku sudah pergi kepasar duluan. Akupun akhirnya berencana besok akan bangun lebih pagi lagi. Tapi keesokan harinya aku tidak jadi kepasar itu juga. Bukan karena aku bangun kesiangan, aku sudah bangun jam 4 pagi, tapi kenyataan yang aku dapatkan, ibuku hari ini nggak belanja kepasar karena bahan masakan kemarin masih tersisa. Hah... gagal lagi. Setiap hari aku selalu memikirkan gadis yang bernama Laras itu. Disekolah aku selalu menceritakannya ke teman - temanku, tapi mereka malah meledekku, mereka malah mengataiku perjaka pasar. Keesokan harinya lagi, aku terlalu lelah untuk terus dibayangi oleh wajah Laras, akhirnya aku sakit, dan tak bisa kepasar itu lagi. Dua hari aku sakit, aku tak bisa kemana - mana, dan akhirnya hari ini sebuah keajaiban datang menghampiriku, teman sekelasku yang bernama Riko ternyata ayahnya adalah saudara pak Bonsai itu, ternyata Tuhan memberikan jalan padaku, terima kasih ya Tuhan. "Tapi beneran lo suka ama Laras?" tanya Riko untuk keseratus kalinya mungkin padaku. "iya, iya... gue yakin"kataku dengan percaya diri. "aduh.... masak iya sih, lo nggak ngeboongin gue kan Nang?"kata Riko, Riko kini sudah cukup membuatku geregetan, "Riko, lo niat gak sih bantuin gue, gue suka, suka, suka.........banget ama cewek yang namanya Laras itu" kata gue ;untuk meyakinkan Riko. Akhirnya setelah Riko sedikit yakin akhirnya dia mengajakku ketoko pak bonsai itu. "Oke lo tunggu disini dulu, gue mau panggilin si Laras" kata Riko padaku, "oke, oke... gue tungguin" sahut gue sambil berdiri di depan toko itu. Tak lama aku menunggu, aku mendengar suara berisik dari belakang, "siapa sih dia" suara seorang cewek, "iya, ntar lo juga tau, dia temen gue" suara Riko. Aku menoleh kebelakangku, dan aku melihat Riko menggandeng seorang cewek gendut, hitam, pendek, dengan penampilan yang menurut gue norak banget...............!!!! "Siapa tuh Rik?" tanyaku pada Riko, "ini pesenan lo, cewek yang bernama L.A.R.A.S"kata Riko padaku. Aku hanya bisa ternganga, bingung harus gimana, kemudian entah mimpi atau nyata aku melihat gadis cantik yang waktu itu, berlalu di belakang Riko, "Wah cantiknya......." seruku, Riko melotot melihatku, tapi dia segera sadar ternyata yang aku bilang cantik itu bukan gadis yang ia ajak itu, tapi gadis yang ada dibelakangnya, "Jadi yang lo maksud Laras itu cewek ini?"tanya Riko padaku, aku mengangguk semangat. Raut wajah Riko berubah jadi garang "Taik lo, ini Virna cewek gue MONYET!!!!!!!!!!!!!!!!!!"seru Riko murka ditempat, aku yang nggak tau hal itu cuma merasa kecewa dan berlalu meninggalkan Riko, Virna, toko buah pak Bonsai, dan laras yang bingung sekali saat itu.



JADI kesimpulanya>> gue suka ama cewek temen gue sendiri, terus nama cewek yang gue suka itu ,bukan Laras tapi Virna. Laras itu adalah anaknya pak Bonsai, terus kalo Virna adalah keponakannya pak Bonsai dari Jakarta, yang sedang berlibur kebandung.

No comments:

Messenger Status