<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454</id><updated>2011-11-25T23:34:36.993-08:00</updated><category term='SeLamaT UjiaN'/><title type='text'>pramita</title><subtitle type='html'>selamat datang di blog saya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-267457117442953582</id><published>2011-11-25T23:05:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T23:22:49.142-08:00</updated><title type='text'>26 November 2011</title><content type='html'>Huhhh,,, habis jalan siang siang,,,,, puanas e pwoll,,,,, dari gambir ke kwitang,,,&lt;div&gt;nyampe di kosan buka blog,,, hmmmm Setelah sekian lama ga ngeblog,,, akhir nya penasaran deh,,, jadi pengen nge blog lagi,,,, yahh blajar lagi laah,,, maklum masih agak agak gmanaa gtu,,, heehee&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-267457117442953582?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/267457117442953582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=267457117442953582' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/267457117442953582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/267457117442953582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2011/11/26-november-2011.html' title='26 November 2011'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-911065246829300884</id><published>2011-11-23T07:20:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T07:26:38.952-08:00</updated><title type='text'>23 November 2011</title><content type='html'>Try to forget all in my live,,, but i can't,,,,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-911065246829300884?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/911065246829300884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=911065246829300884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/911065246829300884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/911065246829300884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2011/11/23-november-2011.html' title='23 November 2011'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-5586462402866594006</id><published>2010-06-30T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T00:10:04.605-07:00</updated><title type='text'>jiaaaahhh dia bukan LARAS</title><content type='html'>Hari ini tepat pukul 5 pagi aku sudah terbangun dari tidurku, entah  kenapa hari ini aku bangun pagi - pagi sekali. Aku langsung pergi  kekamar mandi untuk membasuh wajahku, saat aku keluar dari kamar mandi  aku melihat ibuku keluar dari dapur, ia menenteng sebuah tas belanja  berwarna biru tua yang masih kosong. "Mau kepasar ya buk?" tanyaku  sambil mengelap mukaku yang basah. "Iya, kok tumben kamu bangun  pagi?"tanya ibuku, aku diam tak menjawab pertanyaan ibuku, karna aku  juga nggak tau knapa hari ini aku bangun pagi - pagi sekali. "Sini buk,  Lanang anter" kataku memberi bantuan kepada ibuku, aku mengambil tas  belanjaan ibuku, dan tanpa perlawanan ibuku memberikannya padaku, ibuku  terlihat heran, aku tau mungkin sekarang ibuku sedang berpikir keras  kenapa anaknya bisa menjadi baik begini, aku juga tidak tau apa yang  sedang terjadi padaku hari ini. Sesampainya dipasar aku mengikuti  langkah ibuku, dari pedagang satu ke pedagang lainnya. Ternyata menemani  ibu berbelanja itu tidak terlalu buruk, sesekali aku tertawa melihat  ibu - ibu yang berusaha keras menawar barang, seolah - olah mereka tidak  mau rugi sedikit pun. Ibuku kemudian melanjutkan pencariannya,  "sekarang ibu mau beli apa lagi?"tanyaku, ibuku menhentikan langkahnya,  dia memeriksa barang belanjaannya "daging udah, cabe udah, sayur juga  udah, apa lagi ya?" ibuku mengguman sendirian, "mmm...?? daging,  sayur,......??? hmm...?? ahaaa... buah buk!!" seruku. Ibuku menoleh  kepadaku "pinter kamu nak" kata ibuku, "ayo sekarang kita beli buah  ditokonya pak bonsai" ajak ibuku. Hah.. pak Bonsai, ada - ada saja,  gumamku dalam hati. Tak jauh kami berjalan akhirnya kami tiba disebuah  toko buah yang kecil, namun buahnya tertata dengan sangat baik, terlihat  2 orang ibu - ibu sedang memilih buah disana, "nah ini dia toko buah  langganan ibu"kata ibuku sambil menunjuk toko buah itu, kami berdua  akhirnya masuk kedalam toko, "Eh, buk marni, siapa tuh yang diajak?"  tanya salah satu ibu - ibu yang tadi memilih buah ditoko itu. "Och.. ini  anak saya, Lanang"jawab ibuku. "waduh, udah besar ya anaknya, kok  tumben nih diajak kepasar? biasanya buk marni kan sendirian, gak pake  ditemenin" kata ibu yang satunya lagi. "iya nih, tumben aja anak saya  ini minta nganterin, yah saya sih mau aja. Eh, buk Irma ama buk Desi mau  beli buah apa nih?" kata ibuku, akhirnya ketiga ibu - ibu itu larut  dalam perbincangan. Aku berdiri disamping tumpukan buah apel merah yang  terlihat begitu segar, tiba - tiba terdengar suara yang begitu lembut  dari belakangku, "permisi" itu suara seorang gadis, aku menoleh  kebelakang dan aku melihat seorang gadis manis yang sangat cantik, ia  membawa sekeranjang apel merah, mataku tak bisa aku palingkan dari  wajahnya, cukup lama aku menatapnya, dan akhirnya dia membuyarkan  tatapanku, "Mas... Mas... bisa minggir sedikit? saya mau lewat" serunya.  Aku kemdian begeser namun tak sedikitpun pandanganku aku alihkan  darinya. "Lanang, ayo pulang!!" seru ibuku yang sudah keluar dari toko,  aku pun beranjak dari tempatku berdiri, namun gadis itu masih membuatku  penasaran, tiba - tiba terdengar teriakan seorang wanita  "Laras..........." gadis itupun beranjak, Aha... pasti namanya Laras,  terkaku dalam hati, Yes... aku tau namanya, besok aku mau kesini lagi  dan aku akan bertemu dia lagi. Aku nggak nyangka ada gadis secantik dia,  disebuah pasar kumuh seperti ini, ternyata ini jawaban dari  pertanyaanku tadi, kenapa aku bangun pagi - pagi sekali? ternyata untuk  bertemu gadis cantik yang bernama Laras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, aku  bangun kesiangan, hah... astaga aku bangun jam 8 pagi. dan ibuku sudah  pergi kepasar duluan. Akupun akhirnya berencana besok akan bangun lebih  pagi lagi. Tapi keesokan harinya aku tidak jadi kepasar itu juga. Bukan  karena aku bangun kesiangan, aku sudah bangun jam 4 pagi, tapi kenyataan  yang aku dapatkan, ibuku hari ini nggak belanja kepasar karena bahan  masakan kemarin masih tersisa. Hah... gagal lagi. Setiap hari aku selalu  memikirkan gadis yang bernama Laras itu. Disekolah aku selalu  menceritakannya ke teman - temanku, tapi mereka malah meledekku, mereka  malah mengataiku perjaka pasar. Keesokan harinya lagi, aku terlalu lelah  untuk terus dibayangi oleh wajah Laras, akhirnya aku sakit, dan tak  bisa kepasar itu lagi. Dua hari aku sakit, aku tak bisa kemana - mana,  dan akhirnya hari ini sebuah keajaiban datang menghampiriku, teman  sekelasku yang bernama Riko ternyata ayahnya adalah saudara pak Bonsai  itu, ternyata Tuhan memberikan jalan padaku, terima kasih ya Tuhan.  "Tapi beneran lo suka ama Laras?" tanya Riko untuk keseratus kalinya  mungkin padaku. "iya, iya... gue yakin"kataku dengan percaya diri.  "aduh.... masak iya sih, lo nggak ngeboongin gue kan Nang?"kata Riko,  Riko kini sudah cukup membuatku geregetan, "Riko, lo niat gak sih  bantuin gue, gue suka, suka, suka.........banget ama cewek yang namanya  Laras itu" kata gue ;untuk meyakinkan Riko. Akhirnya setelah Riko  sedikit yakin akhirnya dia mengajakku ketoko pak bonsai itu. "Oke lo  tunggu disini dulu, gue mau panggilin si Laras" kata Riko padaku, "oke,  oke... gue tungguin" sahut gue sambil berdiri di depan toko itu. Tak  lama aku menunggu, aku mendengar suara berisik dari belakang, "siapa sih  dia" suara seorang cewek, "iya, ntar lo juga tau, dia temen gue" suara  Riko. Aku menoleh kebelakangku, dan aku melihat Riko menggandeng seorang  cewek gendut, hitam, pendek, dengan penampilan yang menurut gue norak  banget...............!!!! "Siapa tuh Rik?" tanyaku pada Riko, "ini  pesenan lo, cewek yang bernama L.A.R.A.S"kata Riko padaku. Aku hanya  bisa ternganga, bingung harus gimana, kemudian entah mimpi atau nyata  aku melihat gadis cantik yang waktu itu, berlalu di belakang Riko, "Wah  cantiknya......." seruku, Riko melotot melihatku, tapi dia segera sadar  ternyata yang aku bilang cantik itu bukan gadis yang ia ajak itu, tapi  gadis yang ada dibelakangnya, "Jadi yang lo maksud Laras itu cewek  ini?"tanya Riko padaku, aku mengangguk semangat. Raut wajah Riko berubah  jadi garang "Taik lo, ini Virna cewek gue MONYET!!!!!!!!!!!!!!!!!!"seru  Riko murka ditempat, aku yang nggak tau hal itu cuma merasa kecewa dan  berlalu meninggalkan Riko, Virna, toko buah pak Bonsai, dan laras yang  bingung sekali saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI kesimpulanya&gt;&gt; gue  suka ama cewek temen gue sendiri, terus nama cewek yang gue suka itu  ,bukan Laras tapi Virna. Laras itu adalah anaknya pak Bonsai, terus kalo  Virna adalah keponakannya pak Bonsai dari Jakarta, yang sedang berlibur  kebandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-5586462402866594006?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/5586462402866594006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=5586462402866594006' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/5586462402866594006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/5586462402866594006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2010/06/jiaaaahhh-dia-bukan-laras.html' title='jiaaaahhh dia bukan LARAS'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-2204728235913473895</id><published>2010-06-30T00:06:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T00:07:18.392-07:00</updated><title type='text'>Delapan Belas tangkai Edelweis</title><content type='html'>Ana menatap langit. Awan mulai menghitam. Cahaya mentari pagi yang  lembut perlahan mulai memudar. Sebentar lagi mendung akan menyelimuti  Padang Edelweis. Sebentar lagi mendung akan menyertai duka di  hatinya.Ana menundukkan wajah. Matanya tertuju pada kuntum-kuntum  Edelweis yang tergenggam erat dalam kedua belah telapak tangannya.  Edelweis yang dipetik oleh kekasihnya sebulan lalu. Edelweis yang  didambakan sebagai hadiah ulang tahunnya. Edelweis yang telah  menyebabkan lenyapnya Agil, kekasihnya.Angin berhembus kencang,  memporak-porandakan tatanan rambutnya. Hawa dingin mulai terasa  menyusupi tulang-berlulang. Ana kembali menatap langit. Gelap. Anto dan  Abuh, kedua sahabatnya yang sejak awal berada di sisinya melakukan  gerakan yang sama. Gerimis mulai turun membasuh hamparan Edelweis.  Gerimis di mata Ana mulai mengaliri pipinya yang bersih. Satu demi satu  butirannya jatuh menetesi kuntum-kuntum Edelweis yang berada dalam  genggaman tangannya.Rasa dingin kian menyengat. Mereka bertiga tetap  berdiri bertahan dalam diam. Seluruh kata-kata tertahan oleh duka dalam  rongga hati. Dibiarkannya gerimis membasahi tubuh mereka. Dibiarkannya  rasa dingin menyusupi tulang belulang.Ana menundukkan wajah kembali.  Matanya kembali menatap kuntum-kuntum Edelweis dalam genggamannya.  Kuntum-kuntum itu telah basah dibasuh gerimis dan air matanya.  Perlahan.....tatapannya terberai. Bait-bait kenangan perlahan merayapi  kelopak matanya. Ia tak kuasa untuk menepisnya, hingga bait-bait  kenangan itu menghalangi pandangannya.....Peristiwa dua hari sebelum  lenyapnya Agil terbayang jelas dalam kelopak matanya.....“Aku mau naik,  An,” Agil berkata pelan sambil menatap Ana dengan sorot matanya yang  lembut.“Naik?” Ana mengernyitkan keningnya.“Ya. Aku mau naik gunung hari  ini.”“Kemana?”“Papandayan!”“Sendirian?”“Nggak, aku berdua dengan  Anto.”Ana terdiam sejenak. Matanya menatap wajah Agil. Agil balas  menatap dengan senyum kecil menghias wajahnya.“Aku ingin kamu batalkan  niatmu itu, Gil!” pinta Ana.“Nggak bisa, An,” jawab Agil  lembut.“Kenapa?” Ana menyelidik.“Ini panggilan jiwa, An.”“Panggilan  jiwa?” Ana menarik nafasnya sejenak. “Tiap kali aku bertanya, kenapa  kamu naik gunung? Kamu selalu menjawab seperti itu!” nada suaranya mulai  meninggi. “Aku sama sekali tak pernah mengerti dengan jawabanmu itu!”  lanjut Ana dengan mimik wajah menampakkan kekesalan.“Panggilan jiwaku  untuk naik gunung adalah sama dengan panggilan jiwaku untuk selalu  berada dekat di sisimu, An,” ujar Agil dengan nada suara biasa, datar.  “Gunung adalah sahabat, An,” Agil menambahkan.“Ya! Jawabanmu tak pernah  berubah, selalu seperti itu, tapi kenyataannya kamu lebih mencintai  gunung ketimbang aku!” Ana menghela nafas sejenak. “Hampir seluruh waktu  senggangmu kamu habiskan di gunung, sepertinya kamu tak pernah punya  waktu sedikitpun untukku!” lanjutnya penuh emosi.“Tidak, An, cintaku  kepadamu tetap melebihi segalanya,” sergah Agil penuh keyakinan. Ia  ingin meredam emosi dan kecemburuan yang sedang mengusik kekasihnya.  “Dan aku selalu punya waktu untuk menemanimu,” sambungnya dengan senyum  kecil di bibirnya yang tipis.Ana terdiam. Ditelannya senyum kecil Agil  bersama kata-katanya yang terasa mampu meredam gejolak emosi dalam  dadanya. Tapi dalam dadanya masih bersemayam perasaan cemas. Ia takut  jika Agil lebih mencintai gunung ketimbang dirinya. Ia takut terjadi  sesuatu yang tidak diinginkan menimpa Agil saat mendaki gunung. Dan yang  pasti.....ia takut kehilangan Agil.“Apa kamu nggak bosan hampir tiap  minggu naik gunung?” Ana kembali melontarkan pertanyaan. “Aku selalu  khawatir jika kamu berada di gunung.”“Sudah aku katakan tadi, bahwa itu  pangilan jiwa dan aku tak pernah merasa bosan untuk naik gunung,” Agil  menjawab tenag. “Kamu tak usah mengkhawatirkan aku, An, .....aku bisa  jaga diri dengan baik.”Terbersit sinar kekhawatiran yang mendalam dari  mata Ana saat mendengar jawaban cowok yang berada di hadapannya. Cowok  yang telah dua tahun menjadi penghuni hatinya. Cowok yang selalu hadir  memberi warna-warna indah buah tidurnya.“Gil, apa kamu nggak ingat,  bahwa lusa nanti aku ulang tahun?” Ana mengingatkan hari ultahnya. “Aku  ingin merayakannya bersamamu!”“Aku ingat, An. Aku.....”“Bohong! Kalau  kamu ingat, kenapa kamu mau naik gunung sekarang?” Ana memotong  kata-kata Agil dengan nada suara yang meninggi.“Sungguh, An, aku ingat.  Aku akan kembali tepat di hari ulang tahunmu dan kita akan merayakannya  bersama.....”“Dusta! Kalau kamu sudah berada di gunung, kamu tak pernah  ingat waktu. Tahun lalu pun kamu berkata seperti itu, tapi nyatanya kamu  tak hadir di hari ulang tahunku. Kamu masih asyik di gunung!” Ana  menyentuh bibir matanya, menahan air matanya yang ingin keluar.  “Padahal.....aku sangat mengharapkan kamu hadir pada saat itu.....” Ana  tak mampu untuk menruskan kata-katanya. Ia rasakan air matanya telah  jatuh mengaliri pipinya. Bergegas ia menghapusnya, namun perlahan air  mata itu masih terus mengalir membasahi pipinya yang bersih.Agil  terdiam. Perasaan salah mengerubuti jiwanya.“Sungguh, An, aku berjanji,  aku akan kembali di hari ulang tahunmu,” Agil berkata lembut.  Jari-jemari tangannya membelai pipi Ana. Meghapus butiran air bening  yang mengalir dari mata Ana. “Aku cuma dua hari di sana.....setelah itu  kita masih punya empat hari sisa liburan sekolah dan akan kuisi  hari-hari itu bersamamu, An,” lanjutnya, berjanji.Ana menghela nafas.  Ditelannya janji Agil bersama air matanya. Tak kuasa rasanya ia untuk  mencegah keinginan kekasihnya. Sia-sia, itulah yang akan ia alami jika  ia tetap bersikeras menahan kepergian Agil untuk naik gunung. Apalagi  Agil sudah berada dalam keadaan siap dengan ransel biru menggantung di  bahu kirinya. Kini ia hanya bisa berharap Agil dapat mewujudkan  janjinya.“Bagaiman, An, boleh kan aku naik gunung?” Agil bertanya  lembut.Ana menatap wajah kekasihnya. Kemudian mengangguk.“Terima kasih,  An,” ucap Agil sambil mengecup kening Ana.Ana tersenyum bahagia.  “Tapi.....jika kamu kembali, aku ingin kamu bawakan aku bunga Edelweis!”  suaranya lebut mengadung tuntutan.Agil tercengang. Alis matanya naik  dan bola matanya nampak membesar. “Maaf, An. Aku tak bisa memenuhi  permintaanmu itu.”“Kenapa?” Ana menyelidik.“Itu berarti aku berkhianat  pada alam dan sumpahku sebagai seorang pencinta alam,” jelas Agil. “Aku  tak sampai hati untuk memisahkan bunga-bunga itu dari kelompoknya dan  bathinku akan menangis jika aku melihat bunga-bunga itu jadi hiasan yang  mengisi vas bunga,” Agil menarik nafas sejenak. “Biarlah bunga itu  tumbuh di sana, dekat dengan kelompoknya.”“Aku tak peduli! Aku hanya  ingin kamu memetikkan bunga itu sebagai hadiah ulang tahunku!” Ana  kembali menuntut.Agil menarik nafas dalam-dalam. Gelisah berkecamuk  dalam rongga dadanya. Ia berada dalam posisi yang sulit.“Berapa tangkai  yang kau inginkan?” Agil bertanya lembut, sepertinya ia ingin memenuhi  permintaan kekasihnya.“Delapanbelas!” jawab Ana cepat.“Banyak sekali,  An?”“Sesuai dengan usiaku!”Agil terdiam. Matanya megitari halaman rumah  Ana. Ia menikmati taman mungil yang tampak sejuk, namun tak dapat  menyejukkan hatinya. Permintaan kekasihnya telah mengganggu  pikirannya.“Aku ke tempat Anto dan langsung berangkat, An,” Agil berkata  seraya memasukkan tangan kanannya di sela tali ransel biru  kesayangannya. Ia berlalu meninggalkan Ana, membawa kegalauan di hati.  Keinginan Ana menjadi suatu beban berat dalam pikirannya.Ana terpaku  menatap kepergian Agil dengan ransel biru di pungungnya. Ia baru  tersadar ketika yang ditatapnya lenyap di sebuah tikungan jalan.  Dipandangnya langit. Matahari mulai meninggi. ***Ana mengusap wajah. Ia  menghapus kenangan yang merayapi kelopak matanya. Pandangannya kembali  seperti semula. Hamparan Edelweis di hadapannya nampak semakin basah  dicumbu gerimis.Rasa dingin kian menyengat. Ana berlutut. Kedua  sahabatnya tetap berdiri dalam diam. Mata mereka memperhatikan setiap  gerakan Ana. Satu demi satu kuntum-kuntum Edelweis yang berada dalam  genggamannya dilepaskan dan ditancapkan pada tanah yang berbatu. Ana  mengembalikan kuntum-kuntum itu pada kelompoknya.Anto menghitung dalam  hati. Delapanbelas. Ya, ada delapan belas tangkai. Sama seperti jumlah  yang dipetik Agil, sahabatnya.Ana berdiri. Matanya menatapi  kuntum-kuntum Edelweis yang baru ia tancapkan. Ia tahu bahwa bunga-bunga  itu tak akan pernah bisa tumbuh lagi meski ditanam kembali.Ana  mendesah. “Maafkan aku, Gil,” suara dalam hatinya penuh penyesalan. Air  matanya kembali mengaliri pipinya yang bersih. Duka kian terasa  menggerogoti jiwa.Ana tengadah. Kedua tangannya terangkat ke atas,  memanjatkan do’a kepada Sang Pencipta. Anto dan Abuh mengikuti. Mereka  berdo’a dalam hati. Mereka berdo’a untuk Agil.Perlahan Ana menurunkan  kedua tangannya. Telapak tangannya mengusap wajah, tanda do’anya usai.  Kedua sahabatnya melakukan hal yang sama. Usai sudah upacara  pengembalian kuntum-kuntum Edelweis.“Sudah, An?” Anto membuka suara.Ana  mengangguk. Butiran air bening masih terus mengalir dari matanya.  Kesedihan masih bersemayam dalam dirinya.“Hapus air matamu, An! Bukan  cuma kamu saja yang merasa kehilangan Agil, kami pun merasakan apa yang  sedang kamu rasakan,” Anto mengingatkan.“Benar, An. Kami pun merasa  kehilangan, karena dia sahabat terbaik kami,” Abuh menimpali.Ana  menghapus air matanya dengan jari-jemari tangannya. “Semua ini memag  salahku.....”“Sudahlah, An, nggak usah kamu sesali dan salahkan dirimu  sendiri. Itu semua takdir Tuhan,” Anto menggunting kata-kata Ana. Ia tak  ingin Ana menyesali diri dan terus larut dalam duka atas kejadian yang  telah menimpa kekasihnya.Sejenak mereka terdiam. Hening. Mata mereka  saling bertatapan.“Bagaimana kalau kita kembali ke Pondok Cisalada  sekarang?” Abuh membuka suara dengan ajakan.Ana dan Anto menganguk,  menyetujui ajakan Abuh. Sejenak, mereka menatapi kembali kuntum-kuntum  Edelweis yang baru ditancapkan Ana untuk memberi salam terakhir,  kemudian melangkah meninggalkan Padang Edelweis.Gerimis belum berhenti  mencumbui hamparan Edelweis. Gerimis belum berhenti membasuh tubuh  mereka. Dan gerimis mengiringi langkah mereka menyusuri jalan menuju  Pondok Cisalada. ***Di Pondok CisaladaTenda Dome warna biru muda milik  Anto tampak basah dijilati gerimis. Namun suasana di dalamnya begitu  hangat, disinari lampu gas. Ana duduk memeluk lutut di atas alas  plastik. Di wajahnya masih terbersit kedukaan yang mendalam. Di  belakangnya, Abuh sibuk menyalakan kompor gas kecil, masak air buat  bikin susu cokelat sebagai penghangat tubuh. Sementara Anto berbaring  menelentang, kedua tangannya disilangkan di belakang kepala sebagai  ganjalan. Matanya menatap pusat tenda. Pikirannya mulai terberai,  menyajikan masa lalu. Dan pandangannya mulai terhalang oleh kenangan  yang datang mengusik. Anto tak mampu mencegahnya.....Dalam tatapan  Anto.....“To! Kita berkemas! Kita turun sekarang!” ujar Agil.“Masih  terlalu pagi, Gil. Belum juga Subuh.....lagi pula masih gelap,” sergah  Anto tanpa semangat.“Aku mau buru-buru sampai di Jakarta!”“Tumben. Nggak  biasanya kamu seperti ini. Ada apa sih?” Anto menyelidik.“Hari ini Ana  ulang tahun, aku harus hadir nanti malam!” jelas Agil.“Oooh.....! Cuma  itu toh, aku kira kamu sudah nggak betah di sini.”“Gimana? Kamu siap  untuk berkemas?”“Siap, Boss!”“Sementara kamu berkemas, aku ke Padang  Edelweis dulu,” Agil berkata sambil melangkah keluar tenda.“Mau apa kamu  ke sana?” Anto bertanya keheranan.“Ada yang mau aku cari di sana,”  jawab Agil sambil berlalu.Anto berkemas dengan pikiran penuh tanda  tanya. Mau apa sahabatnya ke sana? Apa yang dia cari di sana? Bukankah  yang ada Cuma hamparan Edelweis? Atau ada yang tertinggal di sana?  Entahlah, ia sama sekali tak tahu.Selesai berkemas, Anto duduk di atas  tanah menanti Agil. Ia memeluk lututnya, mencari kehangatan. Sweater  hijau lumut yag dipakainya tak mampu menghalau hawa dingin yang  menyengat.Agil muncul dari kegelapan. Sorot redup lampu senter kecil  dalam genggaman tangan kanannya samar menyinari langkah kakinya. “Sudah  beres, To?” Agil langsung bertanya.Anto tak menjawab. Matanya menjilati  seluruh tubuh Agil. Ia terkejut saat tatapannya terbentur pada sesuatu  yang berada dalam genggaman tangan kiri sahabatnya itu. “Apa yang ada  dalam genggamanmu itu, Gil? Anto mencari tahu.“Edelweis.”“Edelweis?! Apa  kamu sudah gila? Anto menarik nafas sejenak. “Kamu suda berkhianat pada  janji! Kamu sudah berkhianat pada alam, Gil!” lanjutnya setengah  berteriak. Wajahnya menampakkan kebencian, karena sahabatnya yang dia  anggap paling baik dan dekat yang sekarang ini berada di hadapannya,  telah mengecewakannya. Agil telah memetik bunga itu. Bunga yang menurut  mereka pantang untuk dipetik.“Aku terpaksa, To. Ana memintaku untuk  memetikkannya sebagai hadiah ulang tahunnya,” Agil menjelaskan.“Apa kamu  nggak bisa menolaknya?!”“Untuk kali ini aku nggak bisa menolaknya, To.  Aku sudah berjanji.”“Berapa yang kau  petik?”“Delapanbelas.”“Delapanbelas? Banyak sekali!”“Sesuai dengan usia  Ana, delapanbelas tahun.”Anto terdiam. Dia bingung harus menyalahkan  siapa? Andai saja Agil memberitahukan maksudnya ke Padang Edelweis,  mungkin ia akan mencegahnya. Sayang, Agil tak memberitahunya. Anto pun  berpikir; bagaimana jika dia mengalami hal yang sama seperti sahabatnya?  Mungkin juga ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan  Agil, sahabatnya. Dalam hatinya, ia menghapus kekecewaan terhadap Agil  dan merelakan semua yang telah diperbuatnya.“Bagaimana, To? Sudah siap  berangkat?” Agil bertanya seraya tangannya mengikat kuntum-kuntum  Edelweis dengan saputangan biru donkernya.“Sudah. Aku sudah siap,” jawab  Anto pelan.“Kita berangkat sekarang!” ujar Agil sambil mengenakan  ransel birunya. “Kita ambil jalan pintas melalui arah gunung  Puntang!”“Berarti.....kita lewat bibir kawah, Gil?”“Yap!”Berdua mereka  melangkah dengan cepat menembus pagi yang masih terbalut kabut,  meninggalkan Pondok Cisalada. Agil berada pada posisi depan, melangkah  cepat. Tangannya erat menggenggam kuntum-kuntum Edelweis yang baru  dipetiknya. Anto setengah berlari di belakangnya, mengimbangi langkah  sahabatnya.“Gil, sebentar lagi kita memasuki bibir kawah. Hati-hati,  Gil! Kabut di sana cukup tebal!” setengah berteriak Anto memperingati  sahabatnya. Ia berada lima langkah di belakang Agil. Langkahnya tak  mampu mengimbangi langkah Agil, ia tertinggal.“Ya, aku tahu, to!” jawab  Agil tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.Mereka terus memacu langkah  menembus kabut tebal. Kini mereka telah memasuki bibir kawah  Papandayan.“Gil! Kita sudah berada di bibir kawah, hati-hati, Gil!” Anto  mengatur nafasnya sejenak. “Tanah di sini gembur, kurangi kecepatanmu,  Gill! Anto kembali mengingatkan sahabatnya.Tak ada sahutan. Agil tak  menghiraukan peringatan sahabatnya. Langkahnya kian dipercepat.  Sementara Anto yang berada di belakangnya, diliputi oleh  ketidak-mengertian; mengapa Agil melangkah begitu cepat seperti ingin  meninggalkannya? Mengapa Agil tak menghiraukan peringatannya? Ada apa  dengan Agil? Tak biasanya ia seperti itu.Tiba-tiba.....“Aaaaaa.....!”  jeritan panjang terdengar disertai dengan suara benturan pada bebatuan  tebing kawah. Suara itu milik Agil. Agil terperosok. Kaki kanannya  menginjak tanah gembur di bibir kawah. Ia tak mampu mengimbangi  tubuhnya.....ia jatuh ke dasar kawah.Anto mencari sumber suara itu.  “Agil.....! Agiiiiil.....!” ia berteriak keras berulang-ulang, memanggil  nama sahabatnya. Namun tak ada jawaban. Ia tak mendapatkan Agil. Ia  hanya menemukan bekas injakan sepatu Agil di bibir kawah dan sekelompok  kuntum Edelweis yang tadi digenggam sahabatnya, masih terikat saputangan  biru donker.Mungkinkah Agil jatuh? Hati Anto bertanya bimbang. Ia  kembali berteriak memanggil nama sahabatnya, namun tak ada jawaban. Ia  mengulangi kembali pangilannya, lagi-lagi ia tak mendapatkan jawaban.  Benarkah Agil jatuh? Hatinya kembali bertanya. Atau ia meningalkannya?  Nggak mungkin ia meninggalkanku!, bathinnya.Anto merasa putus asa.  Berkali-kali ia berteriak memanggil sahabatnya, namun tak ada jawaban.  Dengan lunglai ia duduk di bibir kawah.Mentari datang menyapa pagi.  Cahayanya yang lembut menembus kabut yang mulai menipis. Anto masih  duduk terpekur di bibir kawah. Matanya menatapi dasar kawah, berharap  menemukan sosok sahabatnya.Angin pagi yang berhembus dingin mengajak  pergi kabut yang mengisi liang kawah. Cahaya mentari mulai leluasa  menyinari dinding dan dasar kawah. Kini dasar kawah sudah nampak jelas  terlihat oleh Anto. Namun, sosok Agil tak ia dapati, hanya ransel biru  milik sahabatnya yang ia lihat tergeletak di dasar kawah. Di mana Agil?  desisnya cemas.Anto tetap duduk di bibir kawah. Matanya terus menatapi  dasar kawah. Ia bertekad terus menanti, berharap Agil muncul di sana.  Namun hingga matahari tepat berada di atas kepalanya, sosok sahabatnya  tidak nampak juga. Mungkinkah Agil lenyap ditelan bumi? Jika tidak, di  mana dia sekarang? Hati Anto dilanda pertanyaan-pertanyaan yang penuh  teka-teki. Dengan berat hati, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke  Jakarta sendirian. Ia ingin memberikan bunga Edelweis yang dipetik Agil  kepada Ana, sebagai hadiah ulang tahunnya. Galau dalam hatinya  mengiringi langkah kakinya menuruni Papandayan, kembali ke  Jakarta.Menjelang malam Anto tiba di muka rumah Ana. Ia mendapati Ana  sedang duduk sendirian di teras rumah. Sepertinya ia sedang menanti  seseorang.Melihat ada yang datang, Ana bergegas menghampiri. “Kamu, To?  Agil mana?” Ana menyambut dengan pertanyaan.Anto terdiam. Lidahnya  terasa kelu. Wajahnya tertunduk menatapi kuntum-kuntum Edelweis dalam  genggamannya. Ia tak kuasa untuk mengatakan kejadian yang menimpa  Agil.“Agil kemana, To?” Ana mengulangi pertanyaannya. Anto tetap  terdiam. “Agil kemana, To?” Ana kembali melontarkan pertanyaan seraya  kedua tangannya mengguncang-guncangkan kedua bahu Anto.“Agil tak bisa  hadir, An” Anto menarik nafas sejenak. Ana melepas kedua tangannya dari  bahu Anto. “Hanya ini yang dapat hadir,” Anto menyerahkan seikat  kuntum-kuntum Edelweis kepada Ana dengan mata berkaca-kaca.Ana menerima  kuntum-kuntum itu dengan hati penuh tanda tanya. “Kemana dia,  To?”“Dia.....dia terperosok di kawah Papandayan dan lenyap, An,” Anto  tak mampu lagi untuk menutupi hal yang sebenarnya terjadi pada  Agil.Bagai disambar petir Ana mendengar penuturan Anto. Seketika  pandangannya menjadi gelap, kemudian jatuh tak sadarkan diri di hadapan  Anto. *** Anto mengusap muka. Membasuh kenangan yang mengerubutinya.  Tatapannya kembali seperti semula pada pusat tenda. Kemudian bangkit  untuk duduk.Ana masih duduk memeluk lutut. Hatinya masih larut dalam  kedukaan. Dan Abuh telah siap menyajikan tiga gelas susu cokelat panas  buatannya.“Ayo silakan diminum, kalian jangan bengong aja,” Abuh  menawarkan.“Terima kasih, Buh. Nanti saja kuminum, sekarang masih  panas,” jawab Anto.“Biar hangat dulu, Buh,” Ana menyambung kata-kata  Anto.“Terserah kalian, deh,” Abu berkata sambil meniupi susu cokelatnya  agar panasnya berkurang.“Kapan kita ke kawah, To?” Ana bertanya kepada  Anto.“Nanti, kalau gerimis sudah reda.”“Habis dari kawah, kita langsung  pulang, To?” Abuh ikut bertanya.“Ya. Kalau gerimis berhenti kita  langsung berkemas, lalu ke kawah dan setelah itu pulang!” jawab Anto  disertai rencananya.Hening. Tak ada kata-kata lagi. Hanya suara gerimis  menetesi atap tenda yang terdengar. Udara dingin di luar tenda merasuki  hati mereka.Beberapa saat pun berlalu. Gerimis telah lelah membasuh bumi  Papandayan, akhirnya ia berhenti. Ana dan kedua sahabatnya bergegas  untuk berkemas. Merapihkan semua barang bawaannya dan memasukkannya ke  dalam ransel masing-masing. Dalam sekejap mereka siap meninggalkan  Pondok Cisalada. *** Di bibir kawah PapandayanAna berdiri terpaku  menatap dasar kawah. Tangannya memegang sebuah wadah berisi bunga-bunga  yang menebarkan keharuman, siap ditebarkan ke dalam kawah sebagai suatu  penghormatan dan pelepasa kepergian kekasihnya. Sementara Anto dan Abuh  sibuk menancapkan sebuah papan tanda di bibir kawah, tepat di mana Agil  terperosok. Nama Agil tertera di sana.Awan mulai berarak. Matahari tak  menampakkan cahayanya. Kabut tipis perlahan memenuhi liang kawah. Alam  menambah kedukaan mereka.Dengan segenap duka dan sesal di hati, Ana  menaburkan bunga ke dalam kawah. Bunga-bunga itu melayang menembus  kabut, jatuh ke dasar kawah. “Maafkan aku, Gil,” suara dalam hatinya.Tak  lama berselang, dalam garis-garis kabut yang mulai menebal tiba-tiba  muncul sesosok tubuh dengan perlahan dari dasar kawah. Sosok itu nampak  berdiri menatap Ana dengan sorot mata yang teduh.Samar-samar Ana melihat  sosok itu. Hatinya terkejut. Sosok itu semakin jeas terlihat oleh kedua  matanya, ia terkesiap. Wajahnya seketika memucat. Agil? bathinnya  bertanya.Sosok itu melambaikan tangannya. Bibirnya menyungging senyum.  Ana yakin sosok itu adalah kekasihnya. Ia balas tersenyum seraya  melambaikan tangan. Sementara kedua sahabatnya terkesima melihat sosok  Agil berdiri di tengah kawah. Mulut mereka ternganga, namun tak mampu  untuk mengeluarkan sepatah kata pun.Hanyut oleh kerinduan yang mendalam,  ingin rasanya Ana melangkahkan kakinya menghampiri sosok itu, memeluk  dan menciuminya. Namun ia sadar, di depannya adalah sebuah kawah yang  dalam dan tak mungkin dapat dilaluinya. Ia hanya mampu beteriak  memanggil nama kekasihnya, “Agiiil.....!!!”Jelas! Sosok itu adalah Agil,  kekasihnya. Namun bukan Agil yang dulu lagi. Ia tak dapat berkumpul  lagi bersama sahabat-sahabatnya. Ia menampakkan diri sesaat hanya untuk  menandai sebuah perpisahan.Kini, perlahan sosok itu turun menembus  garis-garis kabut. Tangannya masih melambai dan senyumnya masih  tersunging untuk Ana, kekasihnya, juga untuk kedua sahabatnya. Sosok itu  kian tenggelam ke dasar kawah. Sedetik kemudian lenyap dari pandangan,  terhalang kabut tebal yang memenuhi kawah.Di bibir kawah, mereka bertiga  masih berdiri menatapi dasar kawah yang terhalang kabut. Mata Ana  nampak berkaca-kaca, memendam kesedihan. Begitu pula dengan kedua  sahabatnya, mereka pun nampak sedih.Ana mengusap mata. Ia menarik  nafasnya dalam-dalam. Semua terasa bagai mimpi. Di sela keheningan ia  berucap, “Maafkan aku, Gil. Aku berjanji akan sering mengunjungimu di  sini.”Mendengar ucapan Ana, kedua sahabatnya saling bertatapan sejenak.  Kemudian tersenyum, tanpa arti.“Sekarang kita pulang yuk!” ajak Ana  kepada kedua sahabatnya. Anto dan Abuh mengangguk bareng. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-2204728235913473895?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/2204728235913473895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=2204728235913473895' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/2204728235913473895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/2204728235913473895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2010/06/delapan-belas-tangkai-edelweis.html' title='Delapan Belas tangkai Edelweis'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-1070440776549942229</id><published>2008-06-05T23:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-05T23:52:21.936-07:00</updated><title type='text'>poese</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arti Persahabatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini bagaikan teka teki&lt;br /&gt;di mana kita harus menebak ......&lt;br /&gt;semua tangga yg terlihat hitam ataupun putih&lt;br /&gt;kadang di saat kita bahagia sekali pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan air yg terus mengalir&lt;br /&gt;tanpa menghiraukan .......&lt;br /&gt;bahwa esok akan ada yg menantikan kesedihan&lt;br /&gt;di saat dan dengan keadaan apa pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan arti persahabatan&lt;br /&gt;yang seutuhnya ya.......itulah kawanku , temanku...&lt;br /&gt;sahabatku yg selalu membuat aku&lt;br /&gt;melupakan kesedihan dan kembali melangkah dengan ceria ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku angkat wajahku......&lt;br /&gt;ku buang rasa sakitku.....&lt;br /&gt;ku ringankan langkahku....&lt;br /&gt;ku ayun tanganku......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yg akan ku ingat selamanya&lt;br /&gt;Satu sahabat lebih baik dari apa pun&lt;br /&gt;Karena dia mampu memberikan pegangan&lt;br /&gt;Di saat kita terhuyung dan terjatuh&lt;br /&gt;Dia jg mampu membuat kita tersenyum kembali dalam canda tawanya ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-1070440776549942229?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/1070440776549942229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=1070440776549942229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/1070440776549942229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/1070440776549942229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2008/06/poese.html' title='poese'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-1846224530998965563</id><published>2008-06-05T02:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-05T03:00:03.477-07:00</updated><title type='text'>Bajaj</title><content type='html'>TeNtang BaJaj&lt;br /&gt;Kenapa nulisnya pake "j" tidak pake "i" ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dahulu kala pencetus kendaraan tsb adalah Bang Jaja bukan Bang Jawadi jadi disingkat Bajaj bukan Bajaw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TipS naeK baJaj&lt;br /&gt;1. Stop bajaj anda dengan tangan jgn dengan senyum manis, gak akan ada yg berhenti.&lt;br /&gt;2. Tawarlah ongkos sesuai dengan tujuan anda jgn pernah anda menawar Tukang Bajaj-  &lt;br /&gt;   nya ato bajajnya!!&lt;br /&gt;3. Cobalah ramah sedikit kepada Tukang Bajaj sebelum menawar,ajak komunikasi   &lt;br /&gt;   sebentar sebelum tanya ongkos,cth: Pagi Pak, dah makan belum?? tadi keluar jam &lt;br /&gt;   brapa dari rumah?? udah lama narik bajaj?? rute terjauh sampe mana Pak?? &lt;br /&gt;   dsb....Kalo perlu ajak duduk berdua,ngobrol dibelakang biar supir merasakan juga &lt;br /&gt;   jadi penumpang. Ini berguna utk mengetahui jam terbang &amp; pengalaman-nya.&lt;br /&gt;4. Jangan pernah minta duduk didepan bareng supir ato didepan bajajnya.&lt;br /&gt;5. Bila bawa Hp, matikan saja,jgn harap anda bisa mendengar dering hp dan bila &lt;br /&gt;   dipasang vibrate juga percuma krn "Vibrate" bajaj lebih dasyat bisa mungguncang  &lt;br /&gt;   sekujur tubuh anda bahkan sampai anda turun pun Vibrate Bajaj masih terasa, cukup &lt;br /&gt;   utk 2 hari.&lt;br /&gt;6. Bila terasa panas didalam, mintalah agar kap bajaj dibuka semua dan banyak &lt;br /&gt;   anginnya (seperti betjak)&lt;br /&gt;7. Carilah bajaj baru keluaran 2001 dengan stir di kiri (bajaj import) agar lebih &lt;br /&gt;   cepat sampe tujuan krn sudah dilengkapi dengan asesoris seperti Turbo Boost, &lt;br /&gt;   Power Window, Central Lock dan supirnya pake dasi,kemeja + celana Icuk Sugiarto&lt;br /&gt;   pendek,sexy)&lt;br /&gt;8. Carilah supir yg pendek agar pemandangan diluar cukup jelas tetapi akan lebih &lt;br /&gt;   jelas lagi bila tidak ada supirnya.&lt;br /&gt;9. Utk mereka yg pacaran,keuntungan naek bajaj: supirnya tidak dengar perbincangan &lt;br /&gt;   kita, kelemahannya : pacar kita juga tidak dengar apa yg kita bicarakan jadi &lt;br /&gt;   gunakan bahasa tubuh selama perjalanan&lt;br /&gt;10.Jgn lupa bawa kertas + pulpen utk tulis alamat jelas serta belokannya bila salah &lt;br /&gt;   arah,langsung kasih catatannya ato bawa juga toa Mesjid pengeras suara kalo &lt;br /&gt;   supirnya "Buta Huruf" (begitu liat huruf langsung buta).&lt;br /&gt;11.Tutup pintu bajaj krn bila terbuka, orang akan mengira anda adalah kenek bajaj.&lt;br /&gt;12.Untuk cukup nyaman, cari bajaj keluaran Blue Bird ato Citra ato HIBA-jaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.... &lt;br /&gt;Untuk mereka yg "Bajaj Mania" ato pengguna "Bajaj Sejati" segera periksa pendengaran anda dan tetap control ke THT bila perlu ajak dokter anda naek bajaj bareng sehingga kalian bisa saling control satu sama lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-1846224530998965563?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/1846224530998965563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=1846224530998965563' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/1846224530998965563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/1846224530998965563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2008/06/tips-naek-bajaj.html' title='Bajaj'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-7384098258326574414</id><published>2008-03-18T02:55:00.001-07:00</published><updated>2008-03-18T02:55:52.683-07:00</updated><title type='text'>Lacak IP lawan chatting YM</title><content type='html'>Kirimkan file apa saja kelawan chatting kita, misalnya photo, file musik, ato apa sajalah.&lt;br /&gt;Pada saat proses pengiriman berlansung, anda lakukan cara² berikut ini:&lt;br /&gt;* Klik start-run&lt;br /&gt;* Ketik netstat lalu tekan enter&lt;br /&gt;* Ntar akan terlihat beberapa IP address, seperti yang terlihat di bawah ini&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   C:\Documents and Settings\&gt;netstat&lt;br /&gt;    Active Connections&lt;br /&gt;    Proto Local Address Foreign Address State&lt;br /&gt;    TCP win06v5:1045 localhost:1046 ESTABLISHED&lt;br /&gt;    TCP win06v5:1046 localhost:1045 ESTABLISHED&lt;br /&gt;    TCP win06v5:1047 localhost:1048 ESTABLISHED&lt;br /&gt;    TCP win06v5:1048 localhost:1047 ESTABLISHED&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kemudian perhatikan Alamat IP address yang memiliki akhiran seperti ini:&lt;br /&gt;   nomor IP :5101 SYN_SENT&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Contoh : 63.21.55.22:5101 SYN_SENT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YM menggunakan port 5101 untuk mengirimkan file. Maka apabila ada nomor ip dengan akhiran port :5101, maka itulah alamat IP address teman chatting kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-7384098258326574414?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/7384098258326574414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=7384098258326574414' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/7384098258326574414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/7384098258326574414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2008/03/lacak-ip-lawan-chatting-ym.html' title='Lacak IP lawan chatting YM'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-3377433875588794055</id><published>2008-03-16T01:06:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T01:17:07.562-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SeLamaT UjiaN'/><title type='text'>SeLaMaT uJiaN...</title><content type='html'>hallo temen-temen semua....&lt;br /&gt;salam kangen selalu, gak terasa akhirnya kita selesai juga yah ujian semester dan sekarang kita tinggal ujian CCNA 3, JENI. Semoga kita semua berhasil yah mengikuti ujiannya. Good Luck buat temen-temen selalu optimis dan jangan lupa berdoa yah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-3377433875588794055?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/3377433875588794055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=3377433875588794055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/3377433875588794055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/3377433875588794055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2008/03/selamat-ujian.html' title='SeLaMaT uJiaN...'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7670743360227568454.post-4149264566891328659</id><published>2006-12-16T22:55:00.000-08:00</published><updated>2006-12-16T22:58:10.936-08:00</updated><title type='text'>wElcoMe aJa YacH............ (^_^)</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7670743360227568454-4149264566891328659?l=chimietz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chimietz.blogspot.com/feeds/4149264566891328659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7670743360227568454&amp;postID=4149264566891328659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/4149264566891328659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7670743360227568454/posts/default/4149264566891328659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chimietz.blogspot.com/2006/12/welcome-aja-yach.html' title='wElcoMe aJa YacH............ (^_^)'/><author><name>mieTz saDdjaHh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2pyDZAbA6F0/TCglN6b0d9I/AAAAAAAAABw/04S3FSydaOQ/S220/DSC00335.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
